Home » » Think big, start small, act now

Think big, start small, act now

Written By organisatorbukankoruptor on Kamis, 13 Juni 2013 | 11.06

Think big, start small, act now.
Mulailah dengan hal-hal kecil untuk mewujudkan impian besar. Bilik Sastra merupakan implementasi ungkapan tersebut. Melalui acara baru itu, RRI World Service – Voice of Indonesia - ingin memulai mewujudkan visi LPP RRI yaitu Menjadi Radio Berjaringan Terluas, Pembangun Karakter Bangsa, Berkelas Dunia.

Start small. Bilik Satra dimulai dari sebuah pemikiran sederhana. Mengudarakan cerita pendek karya perantau Indonesia di luar negeri. Perantau Indonesia adalah ungkapan pilihan untuk menggantikan istilah TKW yang sering berkonotasi kurang memanusiakan. Saya peroleh istilah itu dari para mahasiswa Indonesia di Taiwan dan aktivis pemerhati nasib TKW di Hongkong. Ide sederhana itu dimulai dengan cara yang sangat sederhana. Ketika itu VOI  berkontak ria melalui FB dengan Ajeng Anggraini seorang mahasiswa yang sedang belajar di Taiwan. Melalui situs mereka www.kmit.org. dibukalah rubrik Bilik Sastra, sebuah ruang untuk menampung cerita pendek karya sesama mahasiswa dan perantau lainnya termasuk TKW.

Dalam kontak dengan Ajeng, VOI utarakan ide pengudaraan cerpen terpilih setiap minggu melalui RRI World Service. Gayungpun bersambut. Disepakati pula bahwa penyiarannya dilaksanakan setiap hari Minggu, mulai pukul 13.05 sampai 14.00 WIB. Mengapa ? Menurut teman-teman saat itu mahasiswa dan para TKW sedang libur. Sebagai komentator dipilihlah Mbak Pipiet Senja, penulis senior yang kebetulan dekat dengan kalangan TKW di Hongkong. Bekerja sama dengan Dompet Dhuafa Teh Pipiet pernah melakukan pelatihan menulis untuk para TKW di Hongkong. Bagaimana pula saya menemukan Teh Pipiet ? Saya dapat masukan dari Mas Bambang Soedjadi seorang teman yang belakangan menjadi konsultan RRI dalam hal hubungan luar negeri dan siaran berjaringan antar negara.

Pertanyaannya apakah acara itu seusai misi Voice of Indonesia ? Rasanya memang begitu, sebab melalui acara ini dapat disiarkan informasi dan program advokasi untuk warga negara Indonesia di luar negeri. Target audience nya juga sudah jelas ada.

Maka begitulah. Bilik Sastra mengudara mulai Minggu, 16 Januari 2011 pukul 13.05 sampai dengan 14.00 WIB. Siarannya melalui live streamingnya VOI, http://id.voi.co.id/. Dua cerpen dibacakan dan dikomentari masing masing satu dari Hongkong dan satu dari Taiwan. Untuk yang Hongkong dibacakan langsung oleh penulisnya Mega Christian yang dari Taiwan dibacakan oleh Eny Budiono di studio Voi Jakarta. Siaran kedua yang merupakan launching acara secara resmi dilaksanakan 23 Januari langsung dari Pusat Dokumentasi Sastra HB Yasin Taman Ismail Marzuki. Dua cerpen yang dibacakan masing masing Persembahan Untuk Ina karya Jenny TKW di Taiwan dan Surat Berdarah Untuk Presiden karya Jaladara seorang TKW di Hongkong. Pembahasnya selain Teh Pipiet Senja adalah Linda Jalil penulis dan mantan wartawan Tempo. Hadir juga sebagai penanggap Direktur Perlindungan WNI Kemenlu,.... dan ...dari BPN2TKI. Salah satu momen dramatis adalah ketika para hadirin dan pendengar tahu bahwa Jenny di Taiwan berbicara sambil menyuapi majikannya yang sudah tua dan rapuh. Kejutan sebenarnya sudah terjadi pada siaran 16 Januari, ketika Mega Kristian siaran dan berdialog dari dalam kamar. Mengapa ? Keluarga majikannya sedang merayakan pesta ulang tahun anak mereka yang ke 18. Di beberapa bagian, Mega terdengar menahan isak tangis ketika membaca cerita pendeknya. Mengapa ? Gadis yang sedang berulang tahun hari itu adalah gadis  yang ia rawat sejak masih bayi dan kemudian memanggil Mega dengan Mama, karena ia menganggap perempuan dari Jawa Timur itu ibunya sendiri.

Lanta apa kaitannya Bilik Sastra yang sederhana itu dengan Visi dan Misi RRI, khususnya RRI World Service – Voice of Indonesia ?

Melalui acara itu Voice of Indonesia berusaha memperluas jaringannya. Bagaimana caranya? VOI berjaringan siaran melalui pola barter link. Webnya VOI di link ke web Mahasiswa dan masyarakat Indonesia di Taiwan. Demikian juga sebaliknya situs Komunitas Masyarakat Indonesia di Taiwan dan Mahasiswa di taiwan yaitu www.kmit.org serta www.formmitt.org dapat dilihat di halaman depan situsnya VOI, www.voi.co.id

Untuk siaran hari Minggu 23 Januari jaringan semakin luas dengan direlaynya siaran Bilik Sastra oleh Radio PPI Dunia yang jaringannya sudah mendunia. Melalui bater link itu, demikian seseorang membuka web akan terlihatlah logo VOI yang jika di klik langsung terdengar live streaming programmnya.

Bagaimana pula dengan membangun karaktek bangsa. Walau belum diterjemahkan secara eksplisit oleh Dewan Pengawas, namun dapat diyakini bahwa salah satu karakter bangsa Indonesia yang ingin dibangun adalah kerja keras, pantang menyerah, dan kreatif. Melalui pembacaan cerita pendek karya para TKW dicerminkan bagaimana para pahlawan devisa itu sudah bekerja keras di sebuah negara yang asing bagi mereka. Dalam melaksanakan pekerjaannya mereka telah menunjukkan sikap pantang menyerah. Mereka tetap melaksanakan pekerjaan apapun situasinya. Dari tetes keringat mereka uang dikirim untuk keluarganya di tanah air. Lantas apa hubungannya dengan kreatif ? Para penulis cerita pendek adalah orang orang yang kreatif. Bayangkan ketika mereka harus bekerja keras, mereka tetap punya waktu untuk menulis. Jenny di Taiwan memulai menulis bukan di sebuah buku, tetapi dari kertas kertas tisu yang tersisa di rumah majikannya ! Bukankah itu adalah pribadi pribadi berkarakter yang boleh jadi tidak banyak ditemukan dalam diri bangsa ini ?

Berkelas Dunia, apa pula relevansinya ? Membuat acara yang baik adalah kewajiban Lembaga Penyiaran Publik seperti RRI. Bilik Sastra adalah salah satu wujudnya. Acara ini didisain atas dasar prinsip dari, oleh dan untuk publik. Ide dan bahannya dari publik. Dibacakan sendiri oleh publik, dan dipersembahkan untuk publik. Melalui acara ini VOI juga berusaha mewujudkan misinya, yaitu memberikan informasi kepada warga negara RI di luar negeri. Tidak hanya itu, kehadiran narasumber dari Kemenlu dan BPN2TKI juga merupakan wujud program advokasi. Terlebih dari itu, melalui acara Bilik Sastra, VOI ingin meningkatkan harkat manusia. Jika selama ini TKW khususnya pembantu rumah tangga dikesankan masuk dalam strata sosial kelas bawah, Bilik Sastra berusaha mengangkat dan memanusiakannya. Karya karyanya dibaca di Pusat Dokumentasi Sastra HB Yasin di TIM, sebuah pusat sastra dan budaya Indonesia. 

Sayapun bangga demi mengetahui betapa Angkasawan RRI yang menggeluti Voice of Indonesia, sesungguhnya adalah para angkasawan pekerja keras, penuh komitmen dan kreatif serta memahami teknis bersiaran di luar studio.

So, think big, start small, act now.

Salam dari RRI World Service ( Kabul Budiono ) sumber : http://infosketsa.com
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Like us on Facebook
Follow us on Twitter
Recommend us on Google Plus
Subscribe me on RSS